Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor industri yang sangat berkembang di Indonesia. Dengan adanya wisata-wisata alam yang indah seperti pantai dan gunung, juga peninggalan bersejarah dari zaman dahulu membuat banyak turis domestik maupun luar negeri yang tidak segan mengeluarkan biaya untuk berlibur di Indonesia. Tak hanya itu, kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia juga merupakan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Kekayaan budaya tersebut meliputi keragaman tarian, musik, bahasa, rumah adat, serta suku bangsa. Tidak hanya menonton penampilan budaya Indonesia, bahkan wisatawan asing pun banyak yang turut serta belajar budaya Indonesia seperti tarian dan memainkan alat musik tradisional. Hal tersebut menunjukan bahwa apresiasi wisatawan asing terhadap wisata alam dan budaya Indonesia sangatlah tinggi. Karena itu, sebagai warga Negara Indonesia kita patut bersyukur dengan budaya dan kekayaan alam yang kita miliki.
Perkembangan sektor pariwisata Indonesia yang pesat ini menunjukan bahwa sektor pariwisata adalah merupakan sektor yang menjanjikan dalam hal lapangan pekerjaan. Diperkirakan bahwa hampir 9% dari total angkatan kerja nasional dipekerjakan di sektor pariwisata. Sektor pariwisata tersebut meliputi bidang perhotelan, travel agent, tour guide, dan lain-lain. Karena sektor pariwisata ini tentang berinteraksi dengan wisatawan asing, maka untuk meningkatkan kualitas, para pelaku sektor pariwisata ini tentu juga harus menguasai bahasa asing.
Penting bagi industri pariwisata Indonesia untuk meningkatkan kontribusinya pada produk domestik bruto atau PDB karena hal ini akan memicu lebih banyak pendapatan devisa. Hal itu dikarenakan setiap turis asing menghabiskan rata-rata 1.100 USD per kunjungan dan juga menyediakan kesempatan kerja untuk masyarakat Indonesia. Pada tahun 2015, sektor pariwisata Indonesia berkontribusi untuk kira-kira 4% dari total perekonomian. Di tahun 2019 ini, Pemerintah Indonesia ingin meningkatkan angka ini dua kali lipat menjadi 8% dari PDB. Untuk itu, banyak hal yang perlu ditingkatkan lagi. Dalam rangka mencapai target ini, Pemerintah akan berfokus pada memperbaiki infrastruktur Indonesia yang juga termasuk infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi, akses, kesehatan & kebersihan dan juga meningkatkan kampanye promosi online atau marketing baik di dalam maupun di luar negeri. Pemerintah juga merevisi kebijakan akses visa gratis di 2015 untuk menarik lebih banyak turis asing. Dengan adanya akses atau pelayanan yang baik dari setiap komponen industri pariwisata, maka sektor ini akan terus semakin berkembang dari waktu ke waktu.
Akan tetapi, di era globalisasi atau milenial ini, teknologi digital lebih mendominasi pasar dan memegang peran penting dalam setiap sektor industri. Sektor pariwisata pun tak luput dari pengaruh perkembangan zaman tersebut. Pengembangan infrastruktur, fasilitas, dan sumber daya manusia saja beum cukup untuk sektor pariwisata dapat tetap berkembang dan unggul. Di era milenial ini, para wisatawan baik domestik maupun luar negeri lebih suka mengakses atau menelusuri tempat wisata melalui media sosial atau internet. Bahkan mereka cenderung memesan tiket pesawat, travel, dan yang lainnya melalui internet atau aplikasi pada perangkat mereka. Tentu dengan cara seperti itu, akses dan pemesanan dapat menjadi lebih praktis dan mudah. Maka, dengan adanya perkembangan seperti itu, para pelaku pariwisata haruslah mampu mengembangkan sektornya menuju Digitalisasi.
Karena perkembangan zaman yang pesat ini, sudah menjadi hal umum jika pariwisata dunia juga dikuasai oleh pariwisata milenial atau milenial tourism. Maka dari itu, pariwisata di Indonesia sudah harus pula menuju ke digitalisasi. Hal tersebut bisa diwujudkan bila semua komponen pelaku pariwisata dapat saling bersinergi. Tidak hanya pekerja atau pihak swasta saja, tetapi juga butuh dukungan dari pemerintah. Maka, sehubungan dengan hal tersebut, Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengajak para pelaku industri pariwisata yang tergabung dalam ASITA (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia) untuk menggalakkan digital dan pariwisata milenial di Indonesia. “Syaratnya go digital. Tanpa itu, kita tidak akan bisa bertumbuh makin tinggi. Dan kita sulit bersaing dengan pasar dunia yang semakin ketat,” kata Menteri Pariwisata, Arief Yahya, saat Pelantikan sekaligus Rakernas DPP ASITA tahun 2019-2024 di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin 8 April 2019. Beliau juga menjelaskan pertumbuhan pariwisata di Indonesia menjadi salah satu paling tercepat di dunia. Untuk itu pemerintah fokus pada dua hal, yang pertama deregulasi dan yang kedua adalah digitalisasi. Menurut beliau, transformasi melalui digital saat ini paling tepat dilakukan karena hampir 70 persen wisatawan ke Indonesia sudah menggunakan digital. Beliau juga mengatakan bahwa di pariwisata, ‘search and share’ itu 70 persen sudah melalui digital. Sudah tidak lagi bisa mengandalkan ‘walk in service’, menyuruh pelanggan datang langsung ke kantor travel agent untuk reservasi tiket dan memilih paket wisata.
Dengan adanya dukungan langsung dari pemerintah, maka terciptanya milenial tourism di Indonesia akan semakin cepat terlaksana dan dapat merata dilaksanakan di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, sektor pariwisata akan tetap dapat bertahan dan bahkan lebih berkembang lagi di era milenial ini.
